Mengenang Kejayaan Petromax dalam Kehidupan Bermasyarakat

Mengenang Kejayaan Petromax dalam Kehidupan Bermasyarakat

Posted by

“Semua akan menjadi kenangan,” begitu kata pepatah. Sekarang sudah saatnya mengenang kejayaan petromax. Ada masa-masa kelahiran, pertumbuhan, kejayaan, hingga akhirnya tinggal kenangan. Hal ini dirasakan betul oleh petromax. Sejak eranya digantikan oleh lampu listrik, otomatis penjualannya dalam kurun waktu setelahnya mengalami penurunan. Namun bukan berarti petromax mengalami kepunahan.

Mengenang Kejayaan Petromax dalam Kehidupan BermasyarakatSampai saat ini, keberadaan petromax masih sering diandalkan oleh sebagian kalangan. Misalnya oleh para nelayan, pendaki gunung, maupun pedagang kaki lima yang kerap berada di luar rumah. Ini pun masih menjadi sangsi karena pembaruan energi untuk kebutuhan listrik selalu diupayakan. Apabila petromax tidak segera berbenah dan mengikuti perkembangan arus, hampir pasti benar-benar jadi kenangan.

Kejayaan petromax terjadi pada sekitar tahun 1900-an. Penerang yang berbahan baku dari minyak tanah ini digagas oleh Max Graetz, asal Jerman. Asal kata petromax merupakan singkatan dari “petroleum max”. Cara kerjanya tentu berbeda dengan lampu minyak sederhana yang kerap beredar di masyarakat.

Pada awalnya, bahan bakar dari petromax itu bernama parafin, namun pada perkembangannya mulai beradaptasi dengan minyak tanah. Cara kerja petromax sangatlah simpel. Waktu petromax diluncurkan, ia sukses menarik perhatian masyarakat dari seluruh dunia. Penjualan pun merambah ke luar Jerman, seperti ke Perancis, pada mulanya. Begitu luasnya yang mengenal petromax, akhirnya sampai ke Indonesia.

Saat listrik belum masuk ke Indonesia, banyak lampu minyak berbahan minyak tanah yang digunakan. Saat itu, siapa pun yang memakai petromax tentu saja akan tampil lebih bergaya. Pasalnya, bisa dikatakan bahwa petromax tidak sembarang dimiliki oleh orang. Dengan kata lain, ia jadi barang mewah di antara lampu minyak pada umumnya. Periode ini terjadi pada waktu sebelum tahun 60-an.

Pada tahun 1920, petromax resmi menjadi merek dagang dan diproduksi secara massal ke berbagai negara di seluruh dunia. Hampir tak terlewatkan. Beberapa jenis petromax yang masuk ke Indonesia pun bervariasi namanya. Mulai dari petromax HK 500, petromax HK 500 electric, petromax HK 150, petromax HK storm lantem, dan masih banyak lainnya.

Tahukah? Rupanya petromax digadang-gadang oleh beberapa ahli memiliki potensi sebagai penerangan energi nuklir. Konsep-konsep yang diterapkan pada pemrosesan produk hampir sama dengan beberapa benda yang digerakkan oleh tenaga nuklir. Namun sungguh sayang, sejak beragam teknologi penerangan diluncurkan, kepopuleran petromax kian meredup.

Puncaknya, pada tahun 1980, perusahaan-perusahaan petromax di daratan Amerika dan Eropa resmi ditutup. Oleh karena itu, sulit rasanya saat ini kalau ingin berburu petromax di pasaran secara leluasa. Benda yang pernah fenomenal ini pun hanya bisa dikenang lewat film-film klasik yang kebetulan diputar di layar kaca, maupun bioskop. Sementara dalam kisah nyatanya? Benar-benar tinggal nama.