Menyikapi Ketidakstabilan Harga Cabai di Pasaran

Menyikapi Ketidakstabilan Harga Cabai di Pasaran

Posted by

Menyikapi Ketidakstabilan Harga Cabai di PasaranPara petani cabai modern lebih mengutamakan produk jadi dibanding produk mentah saat dijual ke pasaran. Penjualan produk mentah dimungkinkan hanya saat kelebihan stok di gudang. Dengan itu, meskipun terjadi lonjakan harga cabai maupun penurunan drastis, mereka tenang-tenang saja. Program teknologi pertanian sebaiknya memang terus digalakkan ke ranah pedesaan maupun pinggiran kota.

Amat berbeda saat melihat kenyataan yang banyak terjadi di Indonesia. Saat terjadi lonjakan harga cabai, akan timbul pro dan kontra. Pro di sini melibatkan para petani. Sebab, hanya menjual beberapa kilogram saja sudah bisa mendapatkan untung berlipat-lipat dari usaha pengelolaan tanaman cabai. Bisa saja, bagi pelaku usaha tani cabai yang lebih besar, akan mendadak jadi jutawan dalam waktu singkat.

Namun periode lonjakan harga cabai yang cukup fantastis umumnya terjadi hanya pada waktu musim penghujan. Musim basah memang diakui banyak petani cabai sebagai musim paling sulit untuk menanam kebutuhan dapur apa pun. Tak hanya cabai, tetapi juga terung, tomat, dan lainnya. Pada musim penghujan, banyak variasi hama yang menyerang mulai dari daun, buah, akar, hingga batang cabai.

Di sisi lain, ada yang kontra dengan fenomena lonjakan harga cabai. Mereka umumnya berprofesi sebagai penjual makanan di warung. Hampir setiap warung membahas tingginya harga cabai pada saat itu berkali-kali. Ada pula beberapa warung yang gulung tikar akibat tidak kuat menanggung beban biaya pembelian cabai. Pada akhirnya, terjadi demo yang cukup meriah demi mengusut agar harga cabai turun.

Kejadian sebaliknya terjadi pada waktu pemerosotan harga cabai. Musim harga cabai yang turun drastis umumnya terjadi pada musim kemarau. Pada musim ini memang hampir semua tanaman cabai bisa tumbuh dengan baik. Namun ironisnya, kabar ini tidak seheboh pada saat pelonjakan harga cabai. Para petani pun hanya pasrah saat mereka tak bisa menjual cabai lagi gara-gara setiap warung masih penuh.

Akhirnya, cabai dibiarkan menggantung saja di batangnya. Sebenarnya, kalau menerapkan teknologi industri pertanian, tidak akan terjadi hal-hal semacam itu. Namun memang perlu beban modal yang cukup besar karena bersentuhan dengan teknologi. Setiap negara maju selalu mengupayakan harga kebutuhan dapur selalu stabil dari tahun ke tahun. Salah satu cara mereka menyikapinya dengan membuat beragam inovasi.

Mereka membuat rumah-rumahan khusus untuk tanaman cabai. Rumah-rumahan itu akan menjaga suhu ruangan agar tetap lembap. Tidak terlalu kering, maupun tidak terlalu basah. Jadi, pada waktu musim penghujan tiba, tanaman cabai mampu tumbuh dengan amat baik. Pengkondisian ini tentunya memerlukan perhatian khusus dari sinergi antara pelaku usaha besar dengan petani kecil.

Begitu terbentuk sinergi yang padu, rasanya lonjakan harga cabai besar-besaran akan lebih ramah. Begitu pula pada saat musim kemarau tiba. Produk cabai tidak hanya dijual mentahan saja. Bisa dijual dalam bentuk kemasan seperti saus, atau kecap pedas. Bisa pula produk lain. Yang penting produk jadi. Jadi, saat terjadi limpahan cabai dari petani, harga jual cabai tetap stabil. Namun untuk mewujudkannya, tentu perlu inovasi.