Sebagai salah satu ikon Kota Semarang, Lawang Sewu sukses memikat perhatian banyak pengunjung. Bangunan ini sudah berdiri sejak tahun 1907. Saat itu belum dibuka kesempatan berkunjung ke Lawang Sewu sebagai agenda berwisata. Berhubung Belanda masih berkuasa, dari segi arsitektur bangunannya pun terpengaruh gaya Eropa. Pada waktu kekuasaan Belanda berakhir dan diusir keluar oleh Jepang, bangunan Lawang Sewu beralih fungsi. Semula bangunan ini dijadikan gedung pemerintahan Belanda. Oleh Jepang, pengalihan fungsi menjadi lebih kejam, yakni dijadikan area pembantaian dan penyiksaan. Bukan hanya rakyat Indonesia yang mengalami penyiksaan, tetapi juga noni-noni dari Belanda. Bangunan Lawang Sewu memiliki ruangan bawah tanah. Di sanalah para tentara Jepang melakukan penyiksaan. Banyak sel berbentuk kotak kecil seukuran 60 cm x 100 cm. Para tahanan dihukum berdiri dalam sel itu hingga mati kehabisan napas. Tidak ada yang bisa meloloskan diri. Ada pula kejadian pemerkosaan yang dialami para noni Belanda sebagai pelampiasan nafsu tentara Jepang. Setelah itu dibunuh. Pengunjung sering mencium bau darah saat memasuki ruang bawah tanah. Tidak hanya itu. Lewat beragam alur cerita sejarah Lawang Sewu, kemudian banyak orang yang merasa takut saat berkunjung malam-malam. Mereka yang pernah berkunjung mengaku sering mendengar jerit wanita yang dipercaya roh gentayangan dari para noni korban pemerkosaan. Ada pula cerita hantu tentara Belanda, penampakan yang aneh, maupun suara derap lari kuda. Sejumlah informasi itu membuat Lawang Sewu yang saat ini dijadikan tempat wisata terasa lebih mistis. Namun, rupanya daya magis itulah yang membuat para pecinta wisata malam justru lebih tertantang. Mereka sangat suka dengan sensasi mendebarkan saat memasuki dan mengelilingi bangunan Lawang Sewu. Para pengunjung yang melakukan kunjungan malam merasa puas dengan sensasi yang dialami mereka di Lawang Sewu. Memang, pada waktu hari masih siang saja area Lawang Sewu sudah menawarkan aroma yang mendebarkan. Lebih lagi kalau malam. Namun apabila berkunjung ke sana, harap ikut-sertakan orang lain. Baik itu teman, maupun keluarga. Jalan-jalanlah bersama pemandu wisata biar tak tersesat. Ada hal yang unik mengenai nama Lawang Sewu. Berdasarkan asal bahasanya, Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa. Arti lawang sewu jika di-Indonesiakan menjadi seribu pintu. Namun faktanya berbicara lain. Belum pernah ada yang mampu menghitung secara pasti berapa pintu yang ada di Lawang Sewu. Nah, inilah sisi uniknya. Ada yang menghitung hanya 400 buah, ada pula yang 900-an. Berkat hadirnya Lawang Sewu, tentu saja ia akan memperkaya khazanah Indonesia. Siapa pun bebas berkunjung ke sana. Dari pagi, siang, sore, atau malam. Sebagai saran, pilihlah waktu malam saat berkunjung. Sebab hanya waktu malam yang mampu menampilkan sisi misterius dan keindahannya. Sekarang, bangunan Lawang Sewu tampil lebih megah dan elegan. Siapa pun pasti betah lama-lama.

Sensasi Mendebarkan Berkunjung ke Lawang Sewu pada Waktu Malam

Posted by

Sebagai salah satu ikon Kota Semarang, Lawang Sewu sukses memikat perhatian banyak pengunjung. Bangunan ini sudah berdiri sejak tahun 1907. Saat itu belum dibuka kesempatan berkunjung ke Lawang Sewu sebagai agenda berwisata. Berhubung Belanda masih berkuasa, dari segi arsitektur bangunannya pun terpengaruh gaya Eropa. Pada waktu kekuasaan Belanda berakhir dan diusir keluar oleh Jepang, bangunan Lawang Sewu beralih fungsi. Semula bangunan ini dijadikan gedung pemerintahan Belanda. Oleh Jepang, pengalihan fungsi menjadi lebih kejam, yakni dijadikan area pembantaian dan penyiksaan. Bukan hanya rakyat Indonesia yang mengalami penyiksaan, tetapi juga noni-noni dari Belanda. Bangunan Lawang Sewu memiliki ruangan bawah tanah. Di sanalah para tentara Jepang melakukan penyiksaan. Banyak sel berbentuk kotak kecil seukuran 60 cm x 100 cm. Para tahanan dihukum berdiri dalam sel itu hingga mati kehabisan napas. Tidak ada yang bisa meloloskan diri. Ada pula kejadian pemerkosaan yang dialami para noni Belanda sebagai pelampiasan nafsu tentara Jepang. Setelah itu dibunuh. Pengunjung sering mencium bau darah saat memasuki ruang bawah tanah. Tidak hanya itu. Lewat beragam alur cerita sejarah Lawang Sewu, kemudian banyak orang yang merasa takut saat berkunjung malam-malam. Mereka yang pernah berkunjung mengaku sering mendengar jerit wanita yang dipercaya roh gentayangan dari para noni korban pemerkosaan. Ada pula cerita hantu tentara Belanda, penampakan yang aneh, maupun suara derap lari kuda. Sejumlah informasi itu membuat Lawang Sewu yang saat ini dijadikan tempat wisata terasa lebih mistis. Namun, rupanya daya magis itulah yang membuat para pecinta wisata malam justru lebih tertantang. Mereka sangat suka dengan sensasi mendebarkan saat memasuki dan mengelilingi bangunan Lawang Sewu. Para pengunjung yang melakukan kunjungan malam merasa puas dengan sensasi yang dialami mereka di Lawang Sewu. Memang, pada waktu hari masih siang saja area Lawang Sewu sudah menawarkan aroma yang mendebarkan. Lebih lagi kalau malam. Namun apabila berkunjung ke sana, harap ikut-sertakan orang lain. Baik itu teman, maupun keluarga. Jalan-jalanlah bersama pemandu wisata biar tak tersesat. Ada hal yang unik mengenai nama Lawang Sewu. Berdasarkan asal bahasanya, Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa. Arti lawang sewu jika di-Indonesiakan menjadi seribu pintu. Namun faktanya berbicara lain. Belum pernah ada yang mampu menghitung secara pasti berapa pintu yang ada di Lawang Sewu. Nah, inilah sisi uniknya. Ada yang menghitung hanya 400 buah, ada pula yang 900-an. Berkat hadirnya Lawang Sewu, tentu saja ia akan memperkaya khazanah Indonesia. Siapa pun bebas berkunjung ke sana. Dari pagi, siang, sore, atau malam. Sebagai saran, pilihlah waktu malam saat berkunjung. Sebab hanya waktu malam yang mampu menampilkan sisi misterius dan keindahannya. Sekarang, bangunan Lawang Sewu tampil lebih megah dan elegan. Siapa pun pasti betah lama-lama.Sebagai salah satu ikon Kota Semarang, Lawang Sewu sukses memikat perhatian banyak pengunjung. Bangunan ini sudah berdiri sejak tahun 1907. Saat itu belum dibuka kesempatan berkunjung ke Lawang Sewu sebagai agenda berwisata. Berhubung Belanda masih berkuasa, dari segi arsitektur bangunannya pun terpengaruh gaya Eropa.

Pada waktu kekuasaan Belanda berakhir dan diusir keluar oleh Jepang, bangunan Lawang Sewu beralih fungsi. Semula bangunan ini dijadikan gedung pemerintahan Belanda. Oleh Jepang, pengalihan fungsi menjadi lebih kejam, yakni dijadikan area pembantaian dan penyiksaan. Bukan hanya rakyat Indonesia yang mengalami penyiksaan, tetapi juga noni-noni dari Belanda.

Bangunan Lawang Sewu memiliki ruangan bawah tanah. Di sanalah para tentara Jepang melakukan penyiksaan. Banyak sel berbentuk kotak kecil seukuran 60 cm x 100 cm. Para tahanan dihukum berdiri dalam sel itu hingga mati kehabisan napas. Tidak ada yang bisa meloloskan diri. Ada pula kejadian pemerkosaan yang dialami para noni Belanda sebagai pelampiasan nafsu tentara Jepang. Setelah itu dibunuh.

Pengunjung sering mencium bau darah saat memasuki ruang bawah tanah. Tidak hanya itu. Lewat beragam alur cerita sejarah Lawang Sewu, kemudian banyak orang yang merasa takut saat berkunjung malam-malam. Mereka yang pernah berkunjung mengaku sering mendengar jerit wanita yang dipercaya roh gentayangan dari para noni korban pemerkosaan.

Ada pula cerita hantu tentara Belanda, penampakan yang aneh, maupun suara derap lari kuda. Sejumlah informasi itu membuat Lawang Sewu yang saat ini dijadikan tempat wisata terasa lebih mistis. Namun, rupanya daya magis itulah yang membuat para pecinta wisata malam justru lebih tertantang. Mereka sangat suka dengan sensasi mendebarkan saat memasuki dan mengelilingi bangunan Lawang Sewu.

Para pengunjung yang melakukan kunjungan malam merasa puas dengan sensasi yang dialami mereka di Lawang Sewu. Memang, pada waktu hari masih siang saja area Lawang Sewu sudah menawarkan aroma yang mendebarkan. Lebih lagi kalau malam. Namun apabila berkunjung ke sana, harap ikut-sertakan orang lain. Baik itu teman, maupun keluarga. Jalan-jalanlah bersama pemandu wisata biar tak tersesat.

Ada hal yang unik mengenai nama Lawang Sewu. Berdasarkan asal bahasanya, Lawang Sewu berasal dari bahasa Jawa. Arti lawang sewu jika di-Indonesiakan menjadi seribu pintu. Namun faktanya berbicara lain. Belum pernah ada yang mampu menghitung secara pasti berapa pintu yang ada di Lawang Sewu. Nah, inilah sisi uniknya. Ada yang menghitung hanya 400 buah, ada pula yang 900-an.

Berkat hadirnya Lawang Sewu, tentu saja ia akan memperkaya khazanah Indonesia. Siapa pun bebas berkunjung ke sana. Dari pagi, siang, sore, atau malam. Sebagai saran, pilihlah waktu malam saat berkunjung. Sebab hanya waktu malam yang mampu menampilkan sisi misterius dan keindahannya. Sekarang, bangunan Lawang Sewu tampil lebih megah dan elegan. Siapa pun pasti betah lama-lama.